Rabu, 08 Juni 2011

Analisis Novel dan Hikayat

Hikayat “Bayan Budiman”

Unsur Intrinsik

1. Tema: Ujian dalam percintaan

2. Tokoh dan Penokohan:

a. Khoja Mubarak: kaya, taat beragama, pemurah, suka bersedekah.

b. Istri Khoja Mubarak: taat beragama.

c. Khoja Maimun: tampan, taat beragama, pandai, pandai berdagang, giat bekerja, percaya pada istri.

d. Bibi Zainab: cantik, mudah tergoda, mudah dirayu, patuh pada suami, mudah marah, suka menepati janji.

e. Bayan Budiman: pandai, cerdik.

f. Tiung Rencana: pendek akal.

g. Anak Raja: mudah terpesona, suka menggoda.

3. Plot(alur): maju.

4. Latar:

a. Tempat: di Negeri Ajam, dan di tingkap mahligai.

b. Waktu: pada malam hari, dan pada siang hari.

c. Suasana cerita: membahagiakan, dan menegangkan.

5. Sudut pandang: orang ketiga diluar cerita.

6. Gaya bahasa: Bahasa Melayu Klasik, Hiperbola.

7. Amanat:

a. Seorang istri hendaknya setia kepada suami.

b. Seorang suami hendaknya menjaga istrinya, dan janganlah membiarkan istrinya sendirian, sehingga ada peluang untuk berbuat serong.

c. Hendaknya kita berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu agar tidak terjerumus pada hal yang merugikan.

d. Berbohong untuk sebuah kebaikan itu diperbolehkan.

e. Jadilah orang yang cerdik dalam menyikapi problematika hidup.

Unsur Ekstrinsik:

1. Keadaan masyarakat:

Keadaan masyarakat pada jaman itu mayoritas mengandalkan usaha perdagangan. Pelayaran menjadi sebuah tradisi bagi orang Melayu. Penerapan prinsip agama pada kehidupan sehari-hari sudah banyak dilakukan.Namun masih tetap ada kecurangan dan perbuatan yang melanggar norma kehidupan.

2. Agama:

Penerapan agama dalam kehidupan masyarakat terasa sangat kuat. Tokoh dalam cerita merupakan penganut agama Islam yang kuat. Norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari bersumber dari Agama Islam.

3. Sejarah penciptaan:

Pengarang ingin menggambarkan tentang kehidupan masyarakat yang berpegang teguh pada norma-norma hidup, terutama norma agama. Pengarang ingin menggambarkan tentang adat budaya pada masa lalu yang yang didominasi oleh budaya perdagangan dan pelayaran. Kejelekan pada kehidupan akan selalu ada selama ada kesempatan untuk dilakukan. Seorang istri hendaknya taat dan setia pada suami, serta bisa menjaga harta dan kehormatannya saat ditinggal pergi suaminya. Pengarang juga ingin menggambarkan bahwasannya kehidupan Bangsa Melayu pada masa lampau telah berpegang teguh pada norma agama, tetapi tetap saja ada orang yang berbuat serong atau melanggar norma yang berlaku di masyarakat.

Novel “Bidadari tak Bersayap” karya Budi Satriyo

Unsur Intrisik

1. Tema: Lika-liku perjalanan cinta yang penuh perjuangan dan pengorbanan.

2. Tokoh dan Penokohan:

a. Bimo: setia, rajin, mempunyai tekad yang kuat, giat bekerja, bertanggung jawab, tangguh, kuat, pendiam, professional, sempat goyah pendiriannya, pemaaf, suka berkorban, tulus.

b. Giselle: manis, anggun, jujur, teguh pendiriannya, suka membela keadilan dan kebenaran, toleran terhadap orang lain, setia, tidak gegabah.

c. Koh Pepen: baik, rajin, suka membantu dan menolong sesame.

d. Mama Giselle: pengertian, tidak membeda-bedakan orang, sabar, toleran.

e. Ayah Giselle: jujur, ulet, pengertian.

f. Shimpei(guru kempo): bijaksana.

g. Wawan: perasa.

h. Jono: humoris, enak diajak curhat, suka membantu.

i. Pak Rohim: bijaksana, berpengetahuan luas.

j. Brahmana: keras, cerdas, berani, agak terkesan kasar.

k. Retno Dwi Marhaeni: baik, mengayomi, suka membantu, pendiam, rajin, pengasih, penyayang, lemah lembut.

l. Andi(Ayah Bimo): pendiam, suka menyendiri, kaku, keras, penyayang, rajin, giat bekerja, pengertian.

m. Rina(Ibu Bimo): cantik, polos, lugu, pemboros, suka royal, penyayang, mudah goyah, tertutup.

n. Kakek: bijaksana.

o. Nenek: hemat.

p. Mbok(pembantu): setia, patuh.

q. Bu Dokter: baik, penyayang, tulus, suka membantu.

r. Mbak Ana: baik, penyayang, perhatian, suka membantu.

s. Om Rudi: suka menggoda, penipu, licik, suka memberikan janji palsu, sok baik.

t. Pak Tono: perhatian, suka membantu, penyayang.

u. Bu Desy: suka mengambil keuntungan sendiri.

v. Bu Dewi: emosian.

w. Pak Agung: peduli, baik hati, penghiba, penyayang.

x. Pak Broto: pemarah, kejam, sombong, sok berkuasa.

y. Alex: kasar, tak setia, licik, serakah, suka mengambil keuntungan sendiri.

z. Brahma: gagah.

3. Plot(alur): Campuran

4. Latar(setting):

a. Tempat: Pasuruan, Cilacap, Bandung.

b. Waktu: sepanjang hidup Bimo.

c. Suasana cerita: menyedihkan, menegangkan, mengharukan.

5. Sudut Pandang:Orang pertama pelaku utama

6. Gaya Bahasa:menggunakan Bahasa Indonesia modern, perumpamaan, hiperbola.

7. Amanat:

a. Cinta adalah sesuatu yang suci, oleh karena itu hendaknya kita menjaga kesuciannya, dan karena kesuciannya tidaklah pada tempatnya mengorbankan sesuatu yang suci lainnya.

b. Hidup adalah pilihan, pilihan antara yang baik atau yang buruk, yang salah atau yang benar, jujur atau bohong, surga atau neraka.

c. Kerja keras adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

d. Seorang ibu rumah tangga hendaknya pandai-pandai mengatur keuangan keluarga.

e. Keadilan adalah hal yang harus diperjuangkan dan ditegakkan.

f. Keyakinan kepada Tuhan hendaknya tidak ditukarkan dengan apapun.

g. Seorang kepala keluarga hendaknya mengatur dan mengarahkan kehidupan keluarga, dan tidak meninggalkannya disaat ada ujian yang mendera.

h. Terkadang cinta adalah sesuatu yang sulit untuk didapatkan dan diraih. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkannya.

i. Cinta sejati tak akan pernah mati. Cinta sejati tak menyakiti dan tak menodai.

j. Cinta tak harus memiliki.

k. Hendaknya saling menghargai antar umat beragama.

l. Janganlah berputus asa dalam menjalani kehidupan, pada tiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Unsur Ekstrinsik

1. Keadaan Masyarakat:

Kehidupan masyarakat serba modern. Persaingan semakin ketat. Saling menjelekkan dan menjatuhkan menjadi hal yang wajar. Orang saling berbohong dan menipu untuk kepentingannya sendiri. Masyarakat kalangan menengah ke bawah harus menjadi korban keserakahan para golongan konglomerat.

2. Agama:

Agama yang mendominasi dalam cerita adalah agama Islam. Tokoh dalam cerita tengah terombang-ambing mencari hakikat keyakinannya kepada Tuhan.

3. Sejarah Penciptaan:

Cerita disusun berdasarkan kisah nyata. Cerita disusun dengan tujuan untuk saling berbagi kepada para pembaca.

Kehidupan yang penuh penderitaan, ujian dan perjuangan membuat pengarang mengabadikan sebuah lika-liku kehidupan dalam bentuk novel.

1 komentar: